freemagz

Subscribe
  • Skip to content
  • About
  • Contact
  • Twitter
  • Facebook
  • Home
  • Event
    • Calendar
  • Spot
  • Review
  • Outloud
  • Face2Face
  • Contributor
    • Media Partner
    • Jujuk Margono
    • Prita
    • Iwan Sastro
    • Imam Darto
    • AIESEC
  • Digital Magazine
    • 2012
    • 2011
    • 2010
    • 2009
    • 2008
  • FM / Radio
http://invaconsult.com.ua/ http://invaconsult.com.ua/
  • Tweet
  • Rock It!

Exclusive Interview with Mono From Japan

Written by Basitha, 17 October 2011
Exclusive Interview with Mono From Japan
Tweet

Selasa, 11 Oktober 2011, Nusa Indah Teater yang terletak di Balai Kartini dipenuhi audience yang seolah tersihir dengan permainan musik band beraliran post-rock asal Jepang, Mono.

Band yang didirikan pada tahun 1999 ini terdiri dari Takaakira Goto (electric guitar), Yoda (electric guitar), Tamaki Kunishi (bass guitar, piano), dan Yasunori Takada (drum, synthesizer). Di luar aksi panggung mereka yang terkesan berjarak dengan audience, ternyata keempat anggota Mono sosok yang ramah. Yuk, simak obrolan singkat Freemagz.com dengan mereka!

Halo guys, so how was the show last night?
Well, we did our best so we hope the audience did not feel disappointed with it.


Penampilan kalian di atas panggung terkesan agak teaterikal. Apakah butuh konsep khusus sebelumnya?
Awal karier kami, kami tampil seperti band rock di atas panggung. Sekitar tahun 2005, kami mulai menggunakan konsep baru dengan nuansa orkestra sehingga penonton bisa berimajinasi. People are not stupid, so I’m trusting the music, I’m trusting the people.

Karena itu kalian memainkan musik tanpa vokal?
Yup, we don’t need it. Karena kami mempercayai kekuatan musik. Tanpa lirik, musik memiliki efek yang sangat powerful.

Siapa biggest inspiration bagi musik kalian?
Beethoven, the orchestra composer.

Pesan apa sih yang mostly ingin disampaikan lewat musik kalian?
Goto : Menurut saya, hidup layaknya koin yang memiliki dua sisi, the good and the bad. Tapi satu yang harus selalu diingat, even though we’re having a very bad day, tomorrow is always a new day. I want to explain that there will always hope through the dark.

Kebanyakan musik kalian memiliki tune yang sangat dark dan memainkan emosi para pendengarnya. Waktu konser kalian berlangsung, banyak penonton yang sangat larut dengan permainan musik Mono. Satu teater seperti tersihir.
Bagi kami, musik seperti jembatan bagi manusia. Lewat musik, orang bisa saling berbagi mengenai berbagai hal, bahkan hal terpenting sekalipun. Musik seperti jembatan untuk melihat ke dalam pikiran seseorang.

Bagaimana proses pembuatan musiknya sendiri? Sering nggak kalian jamming hingga menghasilkan materi terbaru?

Goto : Nope. I have the writing songs part. Saya tahu saya memiliki anggota band yang sangat hebat dan saya tahu apa yang bisa mereka lakukan. Kami juga selalu terbuka untuk sharing dalam hal musik. I’m trusting them, and I hope they trust me too!

Takada : He’s the man in this band (disambut tawa personil lain). Yeah, we trust each other on making music.


Dalam hal musik, ada nggak di antara kalian yang belajar musik dalam jalur formal?
Never. Kami tidak pernah mengikuti kelas musik apapun. Semua kami pelajari secara otodidak sejak kami kecil.

Dalam show kalian tadi malam, banyak fans yang masih setia menunggu setelah kalian kembali ke belakang panggung. Mereka mengharapkan encore yang biasanya dimainkan musisi setiap konser. Namun kalian tidak memainkannya. Kami sempat membaca di beberapa sumber bahwa kalian memang jarang sekali memainkan encore dalam penampilan kalian. Why?
Kami memang tidak terlalu suka melakukan encore. Bayangkan hal itu seperti… hmm.. feeling. Feeling never has an encore. Begitupun dalam permainan kami. Every performance has its story, yang kami bangun mulai dari lagu pertama hingga terakhir. Jadi kami tidak ingin merusak atmosfer yang telah kami bangun dari awal.

Sejauh mana Japanese culture mempengaruhi musik kalian?
Pada awalnya, kami tidak banyak menyerap kebudayaan Jepang dalam musik kami. Apalagi setelah Perang Dunia II, Jepang seperti mengalami masa yang cukup suram. Sebenarnya, ini tidak mengurangi kebanggaan kami akan kebudayaan Jepang. We have Japan in our blood, in our band, but maybe not the culture.

Kami sangat terpesona dengan lagu keempat yang kalian bawakan tadi malam, “Pure As Snow”. It was a very great performance. Ini membuat kami bertanya-tanya, adakah lagu yang paling personal bagi masing-masing anggota Mono?
Kami tidak bisa memilih. They’re our babies (jawaban ini disetujui para personil lain diirangi gelak tawa keempatnya).

On stage, kalian tampak sangat serius. What do you guys do to have fun?
Di jepang, kami tentu sering hangout dengan orang-orang terdekat. Tapi di luar musik, kami jarang kumpul bersama. Setiap menjalankan tur, kami harus melewatkan 24 jam non stop bersama-sama dan kami rasa itu cukup. After the tour, we try to be as far as possible! Hahahaha…

Musik kalian dikenal sangat emotional. Adakah pengalaman negatif dengan fans dalam setiap penampilan kalian?
Justru kebanyakan tanggapan yang kami dapat dari fans sangat positif. Banyak dari mereka yang mengatakan, “My life was changed” setelah mendengarkan musik kami.

Read 1032 times | Like this? Tweet it to your followers!
Tagged under
  • face2face
  • mono

Related items

  • FACE2FACE - 10 Magical Icons
  • Intimate Session With MONO - free! Best Concert 2011 Nominees
  • Bombay Bicycle Club Interview
  • GoJek Ala Nadiem Makarim
  • DJ Reynald X2 Goes to Europe
back to top
  • About
  • Contact
  • Twitter
  • Facebook
Entertainment and Lifestyle Guide. Natamedia Copyright 2010 - 2012. Powered by : Q9 Cybergate